Siapa tak kenal Buya Hamka. Tokoh Islam bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah itu termasuk orang terdepan dalam sejarah perkembangan Islam abad modern di Indonesia. Sayang, saat ini tak banyak anak muda yang mengkaji ketokohannya. Sebaliknya, nama Hamka malah makin berkibar di negeri tetangga, Malaysia.
Termasuk, Museum Hamka yang berlokasi di tepi Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Museum yang rampung dibangun dua tahun lalu itu malah banyak dikunjungi wisatawan dari negeri jiran itu. Sedangkan wisatawan Indonesia kurang peduli dengan kehadiran museum tersebut.
Sayang bahwa tokoh sebesar Hamka kini mulai dilupakan anak muda kita. Pemerintah juga tak terlalu memperhatikan kepahlawanannya,’’ kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Din Syamsudin usai melakukan wisata spiritual ke Museum Hamka pekan lalu.
Din beserta rombongan pengajian Orbit yang antara lain diikuti oleh artis, politisi, dan birokrat menjadikan Museum Hamka sebagai bagian dari perjalanan dalam rangka bakat sosial kepada masyarakat di wilayah eks gempa.
Selain Museum Hamka, rombongan yang diikuti antara lain Sutrisno Bachir, Anggota DPD dan DPR RI asal Sumbar itu, menyempatkan menyalurkan bantuan kepada perguruan Muhammadiyah di Padang Panjang dan panti asuhan Muhammadiyah di Batipuh.
Museum Hamka itu adalah rumah tempat lahir Buya Hamka. Rumah itu telah direnovasi dengan model rumah gadang. Terletak di kaki bukit setelah melewati kelok 44, museum itu menyimpan benda-benda berkaitan dengan Buya Hamka. Di dalamnya, ada perpustakaan berisi karya-karya Buya, tongkat, tempat tidur, kursi, meja tulis dan benda-benda lainnya.
Museum ini terletak di daerah yang cukup sejuk. Dari Kota Padang, museum ini bisa ditempuh dalam empat jam. Jalannya mulus dengan pemandangan Bukit Barisan yang hijau memukau.
Rumah kelahirah Buya Hamka ini disiapkan sebagai museum yang siap menampung pengunjung. Di bagian depan tersedia halaman parkir. Di samping rumah terdapat kamar mandi dan mushala yang cukup asri.
Ingin mendapat buku karya Hamka? Di seberang museum terdapat sebuah gerai kecil yang menjual buku-buku karya Hamka termasuk koleksi Majalah Panjimas. Museum ini banyak dikunjungi pelancong dari Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam,’’ kata Aristo Munandar, Bupati Kabupaten Agam kepada wartawan.
Din sendiri menyatakan ironis, orang sekaliber Hamka kurang dihargai di negerinya sendiri. Bahkan tak ada nama jalan yang menggunakan nama Hamka. ‘’Banyak nama jalan protokol di Jakarta menggunakan nama tokoh yang kita tidak mengenal ketokohannya. Padahal, Hamka jauh lebih besar dari mereka,’’ kata Din.
Din menilai Buya Hamka berjasa membentuk karakter bangsa Indonesia. Mengenai alasan kurang begitu populernya Hamka, ia menyatakan kondisi tersebut adalah karena kurangnya sosialisasi khususnya dari pihak pemerintah pusat.
Oleh karena itu, Din berharap agar baik pemerintah pusat maupun daerah khususnya di Sumatera Barat untuk melakukan sosialisasi sosok Buya Hamka, termasuk dalam pengelolaan museumnya yang terletak berhadapan dengan Danau Maninjau.
Karya Buya Hamka dipamerkan di museum ini antara lain buku berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Di Dalam Lembah Kehidupan (1939), Merantau ke Deli (1940), Margaretta Gauthier (terjemahan, 1940), Tuan Direktur (1939), Dijemput Mamaknya (1939), Keadilan Ilahy (1939), dan Tashawwuf Modern (1939).
Namun di antara banyak karya, Tafsir merupakan karya gemilang Buya Hamka. Tafsir Alquran 30 juz itu hanya satu dari 115 karya yang dihasilkan Buya Hamka semasa hidupnya. Tafsir tersebut dimulainya tahun 1960. Dan karya besar itu ia rampungkan saat ia ditahan oleh pemerintah Orde Lama atas tuduhan subversif, meskipun tuduhan itu tak pernah dapat dibuktikan secara hukum.
Kenangan Tokoh Mengenal Kembali Hamka
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka adalah ulama dan penulis Islam Indonesia modern paling produktif. Hamka lahir di Sungai Batang, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908. Ibunya berasal dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Syaikh Dr Abdulkarim Amrullah, berasal dari keluarga ulama dan seorang pelopor gerakan pembaruan modernis.
Meski ayahnya seorang guru terkemuka di Thawalib Sumatra, sekolah keagamaan tradisional terkenal yang segera menjadi sekolah reformis radikal, Hamka disekolahkan ke sekolah diniyah didikan Zainuddin Labay El-Junusya. Sekolah ini adalah sekolah keagamaan pertama yang menggunakan sistem pendidikan modern.
Hamka gagal di diniyah dan dipindah ke sekolah Islam yang dipimpin tokoh Islam modernis, Syaikh Ibrahim Musa di Parabek, Bukittinggi, tahun 1922. Namun, ternyata ia lebih senang mempelajari karya sastra ketimbang kitab tafsir. Tahun 1923, secara otodidak Hamka baru belajar kitab.
Setahun kemudian, Hamka berangkat ke Jawa untuk mengunjungi kakak perempuannya yang bersuamikan AR Sutan Mansyur, yang menjadi Ketua Muhammadiyah. Di sinilah dia berkesempatan bertemu dengan tokoh Islam lain pada masa itu. Bukan sekadar pertemuan, tetapi ia juga sempat mengikuti berbagai kuliah umum yang diberikan pemimpin Islam.
Tahun 1925, Hamka memasuki dunia jurnalistik. Ia mulai menulis artikel untuk harian Hindia Baru yang dieditori Haji Agus Salim, seorang pemimpin politik Islam.
Sekembalinya ke Padang Panjang tahun 1926, Hamka mendirikan jurnal Muhammadiyah pertama, Chatibul Ummah. Ia sempat pergi ke Medan dan Mekkah tahun 1927. Perkenalannya yang singkat dengan dunia Arab bukan hanya meningkatkan kemampuannya berbahasa Arab, tetapi juga mengenal sastra Arab.
Sepulang dari Mekkah, ia menetap di Padang Panjang dan kian sering menulis dan mulai memakai nama Hamka. Buku pertamanya merupakan novel Minangkabau berjudul Si Sabariah, terbit 1928.
Aktivitasnya di Muhammadiyah membawanya hingga ke Makassar (1932-1934). Di Makassar, ia sempat menerbitkan dua jurnal, sejumlah novel, dan sebuah buku sejarah Islam.
Tahun 1936, ia mendapat tawaran menjadi editor kepala jurnal Islam yang baru terbit di Medan, Pedoman Masyarakat. Saat Hamka di jurnal inilah, sering disebutkan sebagai masa keemasan jurnalisme Islam di Indonesia.
Pada era 1936-1945, Hamka menerbitkan banyak novel besarnya, seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal van der Wijck, dan buku tentang etika Islam dan tasawuf, termasuk Tasawuf Modern, Lembaga Budi, dan Falsafah Hidup. (dari berbagai sumber)
Advertisement
Like this:
Be the first to like this post.
Leave a comment
Comments feed for this article